Zakat Fitrah, Ukuran Zakat Fitrah, Waktu Zakat Fitrah dan Yang Mengeluarkan Zakat Fitrah

ZAKAT FITRAH- Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas , ia berkata;


 فَزَضَ رَسُوْلُ ا ه للَِّ ه هي ا ه للَُّ هَ سَ ه هىَ سَكَاةَ انْفِطْزِ طُهْزَةً نِه ه صائِىِ

يِ ان ه هغْوِ ان ه زفَثِ طُعْ تًًَ نِهْ سًََاكِ يَ أَ ه داهَا قَبْمَ ان ه صلََةِ فَهِيَ

سَكَاةةٌ يَ بُونَ ةٌ ت يَ أَ ه داهَا عْ ان ه صلََةِ فَهِيَ قَ ةٌ ت يِ ان ه ص قَاثِ

”Rasulullah a mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa membayarkannya sebelum shalat maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa membayarkannya setelah shalat maka ia adalah sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud : 1594, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1827. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

SIAPA SAJA YANG DIWAJIBKAN MENGELUARAKAN ZAKAT FITRAH 

Zakat fitrah wajib hukumnya atas setiap muslim, baik itu hamba sahaya atau yang merdeka, laki-laki atau wanita anak kecil atau orang dewasa. Hai ini berdasarkan hadits Ibnu „Umar p, ia berkata;

 فَزَضَ رَسُوْلُ ا ه للَِّ ه هي ا ه للَُّ هَ سَ ه هىَ سَكَاةَ انْفِطْزِ، ا ا يِ تَ زًٍْ،

أَ ا ا يِ شَعِ زٍ : هَي انْعَبْ انْحُ ز، ان ه ذكَزِ، الُْْ ثََْي،

ان ه صغِ زِ، انْكَبِ زِ، يِ انْ سًُْهِ ،ٍَ أَيَزَ هَا أَ تُؤَ ه دى قَبْمَ خُزُ جِ

ان هُااِ نَي ان ه صلََةِ

“Bahwa Rasulullah a mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha‟ kurma atau satu sha‟ sya‟ir atas seorang hamba, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, besar kecil dari orang-orang islam; dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan Shalat („Idul Fitri).” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1432, Muslim Juz 2 : 986) 

Zakat fitrah diwajibkan kepada seorang muslim yang memiliki makanan pokok untuknya dan untuk orang yang ada di bawah tanggungannya pada malam „Idul Fitri dan harinya. Ini adalah pendapat Jumhur ulama‟; Malikiyah, Syafi‟iyah, dan Hanabilah. Dan zakat itu wajib atas dirinya, dan orang-orang yang wajib dinafkahi, seperti; isteri, anak-anak, dan para pembantu jika mereka adalah orang-orang Islam.

UKURAN ZAKAT FITRAH YANG HARUS DIKELUARKAN

Ukuran zakat fitrah adalah sebanyak 1(satu) sha‟, baik berupa; kurma, kismis, gandum, beras, jagung, atau makanan pokok lainnya. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi‟iyah, dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t. Diriwayatkan dari Abu Sa‟id Al-Khudri y, ia berkata; 

كُ هُا عَُْطِ هَا فِيْ سَيَا ان هُبِ يِ ه هي ا ه للَُّ هَ سَ ه هىَ ا ا يِ طَعَاوٍ ,

أَ ا ا يِ تَ زًٍْ , أَ ا ا يِ شَعِ زٍ , أَ ا ا يِ سَ .

“Pada zaman Nabi a kami selalu mengeluarkan zakat fitrah 1(satu) sha‟ makanan, atau 1(satu) sha‟ kurma, atau 1(satu) sha‟ sya‟ir, atau 1(satu) sha‟ anggur kering. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1435, Muslim Juz 2 : 985) 

Adapun patokan ukuran sha‟ yang digunakan ialah sha‟ Nabi a,, yaitu sama dengan 4(empat) mud sama dengan 2(dua) liter sama dengan 2,4 kg. Catatan : Tidak dibenarkan mengeluarkan zakat fitrah dengan nilai/harga makanan pokok tersebut (diuangkan) menurut pendapat kebanyakan ulama‟ fiqih, kecuali Imam Abu Hanifah. 

Pada asalnya bahwa zakat fitrah dikeluarkan dengan segala macam makanan pokok yang telah disebutkan nash hadits, tidak bisa digantikan dengan nilai uang kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak, karena kebutuhan atau karena kemaslahatan tertentu. Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-„Utsaimin t; “Zakat fitrah hanya boleh berupa makanan saja, tidak boleh dengan harganya (uang). Sebab Nabi n telah menetapkan zakat fitrah 1(satu) sha‟ berupa makanan, buah kurma atau gandum.”

WAKTU YANG TEPAT (DIBOLEHKAN) MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH 

Para fuqaha‟ telah sepakat bahwa zakat fitrah adalah wajib. Dan permulaan waktu wajibnya adalah setelah terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan. Ini adalah pendapat Syafi‟iyah, Hanabilah, dan satu pendapat dari Malikiyah. Adapun waktu yang paling utama untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah pada hari „Ied sebelum orang-orang keluar menuju shalat. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar , ia berkata;

 أَيَزَ هَا أَ تُؤَ ه دى قَبْمَ خُزُ جِ ان هُااِ نَي ان ه صلََةِ

“Rasulullah a memerintahkan agar (zakat fitrah) ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju Shalat („Idul Fitri).” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1432, Muslim Juz 2 : 986) 

Diperbolehkan mempercepat pengeluaran zakat fitrah sehari atau 2(dua) hari sebelum hari raya, dan tidak boleh mengakhirkannya sampai setelah shalat „Idul Fitri. Dan ini pendapat yang dipilih oleh Syaikh Shalih Alu Bassam t dalam kitabnya Taisirul „Allam, mengikuti pendapat gurunya Al-Allamah „Abdurrahman bin Nashir As-Sa‟di . 

Sebagaimana diriwayatkan dari Nafi‟ y ia berkata; “‟Ibnu „Umar p memberikan zakat fitrah kepada orang yang mengumpulkannya (amil zakat) kemudian mereka memberikannya sehari atau 2(dua) hari sebelum hari raya „Idul Fitri.” (HR. Bukhari : 1511) 

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-„Utsaimin ; “Zakat fitrah memiliki 2(dua) waktu; waktu yang diperbolehkan yakni sebelum „Ied; 1(satu) atau 2(dua) hari, dan waktu utama yakni pada hari „Ied sebelum shalat, penundaannya sampai sesudah shalat adalah haram hukumnya dan tidak bisa mencukupi kewajiban zakat fitrah.”


Catatan :

  • Apabila seorang belum mengeluarkan zakat fitrah sampai setelah shalat „Idul Fitri, maka kewajiban zakat fitrah tidak gugur dengan keluarnya waktu karena zakat tersebut tetap ada didalam tanggungannya yang merupakan hak bagi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Sehingga ia harus tetap mengeluarkan zakat meskipun zakatnya dianggap sebagai shadaqah sunnah, dan ia harus menyesal dan beristighfar kepada Allah SWT. Dan ini merupakan kesepakatan para ulama‟.
  • Zakat fitrah terkait dengan badan, maka seorang dapat mengeluarkannya dimana pun ia berada. Berkata Syaikh „Abdul „Aziz bin „Abdullah bin Baz ;

“Apabila orang yang berkewajiban zakat fitrah tersebut melakukan perjalanan 2(dua) hari atau lebih sebelum hari raya, maka ia mengeluarkan zakat di negeri Islam yang dituju. Jika bukan negeri Islam, maka carilah sebagian muslim yang fakir dan serahkan kepada mereka.”

SIAPA SAJA ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH 

Zakat fitrah diutamakan diberikan kepada fakir miskin. Ini adalah pendapat Malikiyah dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t. Hal ini berdasarkan hadits dari „Abdullah bin „Abbas , ia berkata;

”Rasulullah a mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud : 1594, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1827. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani ) 


Catatan :

  • Apabila seseorang memberikan zakat kepada orang yang tampak lahiriyahnya fakir atau miskin, dan ia telah berusaha untuk mengetahuinya dengan sungguh-sungguh, kemudian ternyata ia bukan orang fakir atau miskin, maka zakatnya sah dan tidak perlu diulang. Berkata Syaikh „Abdul „Aziz bin „Abdullah bin Baz t;

”Jika terbukti bagi orang yang mengeluarkan zakat bahwa orang yang diberi zakat itu bukan orang fakir, maka tidak wajib atasnya untuk mengqadha‟ (mengulangi), jika orang yang telah diberikan (zakat) itu pada lahiriyahnya fakir.”

  • Zakat fitrah satu orang boleh diberikan kepada orang banyak dengan dibagi-bagikan kepada mereka. Dan zakat fitrah orang banyak boleh diberikan kepada kepada satu orang. Karena perintah membayar zakat fitrah bentuknya mutlak, tidak terikat. Ini adalah pendapat Syaikh Abi Bakar Jabir Al-Jaza‟iri 2.



Sumber:
  1. Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Ismai‟l Al-Bukhari.
  2. Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, „Abdul „Azhim bin Badawi Al-Khalafi.
  3. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ahmad bin ‟Ali bin Hajar Al-„Asqalani.
  4. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq.
  5. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’i wa ma Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin minal Ahkam, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  6. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jaza‟iri.
  7. Mukhtasharul Fiqhil Islami, Muhammad bin Ibrahim bin „Abdullah At-Tuwaijiri.
  8. Majmu’ah Fatawa Madinatul Munawwarah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  9. Shahih Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib Al-A’immah, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  10. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
  11. Taisirul ‘Allam Syarhu Umdatil Ahkam, „Abdullah bin „Abdurrahman Ibnu Shalih Alu Bassam.
  12. Taisirul Fiqh, Shalih bin Ghanim As-Sadlan.
  13. Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibatin Muhammatin Tata’allaqu bi Arkanil Islam, „Abdul Aziz bin „Abdullah bin Baz.

0 komentar: