Kawan, Mari kita Berlomba Menuju Rahmatan Lil'alamin - Minoritas Minggir !

Bisakan, Mengayomi Minoritas di Mayoritas 

Sedikit kronologinya begini, Sebut saja namanya Meiliana yang baru kamaren , dibulan ini tepatnya tangga 21 tahun 2018 dihukum selama 18 bulan kerena di anggap menista agama.

Karena mengeluh , Suara azan pake speaker/ toa terlalu keras. ia merasa terganggu , berisik dan bilangnya sakit.

Setelah mengadu ke warga setempat, Malah di gerudug dan akhirnya menjadi kasus panjang. Sebenernya kejadian itu sudah dari tahun 2016 di sumut tanjung balai.

Pengurus DKM karena mayoritas tentu tidak suka dengan apa yang diminta meiliana untuk mengecilkan speaker.

Ya, meskipun ini di negara yang demokrasi, Sebagai mayoritas harus menang. hehehe

Akibat dari kasus itu, Banyak tanggakan mengenai vonis yang berikan pada meiliana. Terutama Organisasi Islam besar di Indonesia.

Tanggapan PP Muhammadiyah soal Meiliana Divonis 18 Bulan, Harusnya Lebih Ringan : "Dalam dunia demokrasi itu berhak untuk mengeluarkan pendapat apapun dan masyarakat kita sebaiknya memang dibiasakan, perbedaan pendapat itu dibiasakan," kata Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad.

PBNU Bidang Hukum, HAM dan Perundang-Undangan, Mengatakan: Suara Azan Terlalu Keras Bukan Penistaan Agama : "Mengatakan suara azan terlalu keras menurut pendapat saya bukan penistaan agama. Saya berharap penegak hukum tidak menjadikan delik penodaan agama sebagai instrumen untuk memberangus hak menyatakan pendapat," ujar Robikin dalam keterangannya.

Sekarang bagaiama Seharusnya , Menurut anda ? Jika Hidup di lingkungan Mayoritas, Jika anda sebagai minoritas.

#Viral di medsos mengenai vonis meiliana- Saya membaca postingan yang di bagikan akun dengan nama Fritz Haryadi

Agak kasar sih omongannya, hmm tapi jangan dilihat itunya yah... Bisakan Ambil intisarinya... Jangan suudzon dululah.

Berikut yang ia tulis. Dan saya sependapat dengan tulisan ini -intisarinya. 

Menjadi seorang muslim di zaman akhir memang cobaannya tidak umum.

Islam didasarkan pada visi memanusiakan manusia. Sebab manusia Arab di zaman jahiliyah itu kelakuannya bukan macam manusia. Senggama sembarangan, kencing berak sembarangan, persis anjing. Kalau beranak perempuan, bayinya langsung dibunuh. Persis... entah persis apa. Iblispun tidak begitu.

Islam bertujuan mengoreksi cara hidup manusia; dimulai dari sampel komunitas Makkah dan Madinah. Setelah sampel manusia itu kembali jadi manusia, sudah tidak jadi babi lagi, maka studi kasus itu direplikasi ke seluruh penjuru dunia; kampung demi kampung, dari benua ke benua. Menebar rahmat ke seru sekalian alam. Rahmatan lil 'alamin.

Sekarang di zaman akhir ini sedang terjadi bangsatan lil 'alamin.

Muslim zaman ini terpaksa mendirikan fastabiqul khoirot, berlomba kebaikan, dengan saudaranya sendiri.
Padahal mestinya fastabiqul khoirot itu antara muslim dengan yang belum muslim. Seorang muslim harus menunjukkan bahwa dia baik, supaya yang lain tertarik masuk ke dalam Islam.

Tapi apa dinyana saudara sendiri malah berlomba-lomba menjadi bangsat.

Makna Islam, makna muslim, menjadi tidak jelas. Sebab si bangsat dan si muslim sama-sama mengaku muslim; dan cilakanya punya status sosial setara, punya legitimasi yang setara diantara umat. Masing-masing sama-sama punya ulama, dan sama-sama saling tuduh satu sama lain sebagai ulama su', ulama buruk.

Contohnya ana sekarang ini. Ana mengaku muslim; tapi setelah baca ocehan ana ini, sembarang bangsat bisa datang dan justru menuding ana sebagai si bangsat itu sendiri. Alasannya karena lisan ana kotor, bicara pakai sebut-sebut bangsat, yang mana kata bangsat itu sungguh jauh dari kalimatul thoyyibah, boro-boro akhlakul karimah.

Kan susah. Sementara si bangsat yang mengaku muslim itu kelakuannya petentang-petenteng menindas yang lemah.
Misalnya begini : doyan menghina agama lain tapi tidak terima kalau agamanya sendiri dihina. Boro-boro dihina, dikomentari sedikit saja tidak terima.
Padahal dalam al-An'am ayat 108 Allah SWT berfirman "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan."

Kelakuan begini ini yang paling susah direhabilitasi dampaknya. Kalau seorang muslim korupsi, kita masih bisa bilang umat lain juga banyak yang korupsi. Muslim bikin video bokep, yang lain juga banyak. Muslim judi minum mabuk, yang lain juga. Walaupun bukan jawaban, cuma sekedar dalih, tapi minimal bisa balik nuding. Bisa selamat sedikit ini muka.

Tapi kalau sok kuasa mentang-mentang mayoritas lalu merasa bebas menghina, lalu tidak terima kalau dibalas; kelakuan kolonial macam begitu itu bagaimana cara membelanya? Bagaimana caranya balik nuding si minoritas?

Mau balik nuding, muslim di Papua juga ditekan mayoritas Kristen?

Kalau balik ditanya "Siapa yang duluan", situ mau jawab apa?
Mau jawab Belanda yang duluan?
Kalau dijawab lagi, jauh sebelum Belanda masuk, sedjak abad 14 sultan Tidore sudah ambil orang Papua untuk dipakai jadi budak, ente mau jawab apa?

.
Berat sekali. Semakin yang sini berusaha unjuk kalem, unjuk santai, unjuk ramah, semakin pulak yang sana unjuk bangsat.
Padahal sini modal ilmu, sementara sana cuma modal bacot plus Toa saja. Tapi ya banyak juga yang percaya.
Macam isi air ke ember bocor.

Bagaimana ya. Baiknya memang kita serahkan saja nasib Islam zaman akhir ini ke Yang Bikin.
Terserah Allah saja mau dibagaimanakan. Wong ikhtiar dari jaman jebot ya tetap begini-begini saja kenyataannya. Kita mastatho'tum saja, sak madyo saja, semampunya saja.

Kita Indonesia ini sudah kebagusan apa kok mengharap Gusti Allah ngurus kita, wong Palestina saja dibiarkan begitu.

Toh sudah dinubuwahkan Rasulullah cuma 1 dari 73 golongan muslim yang masuk surga; bahkan rinciannya cuma 1 dari 1.000 keturunan Adam yang masuk surga.

Tapi kamu tenang saja, kamu kan keturunan sebelum Adam. Keturunan Lutungsaurus.

0 komentar: